Assalamu'alaikum
wr wb
Salam Santun Puji
Rahayu

Filsafat dimaknai
sebagai pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang, filsafat merupakan
Pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada,
sebab, asal dan hukumnya. Filsafat dengan filosofi sebenarnya tidak ada
perbedaan Antara kedua kata tersebut, hanya saja kata filsafat biasa digunakan
dalam bahasa formal. Apabila di definisikan filosofi adalah kerangka berpikir
kritis untuk mencari solusi atas segala permasalahan. Dengan demikian filosofi
hidup orang Jawa dimaknai sebagai pandangan hidup yang menjadi pedoman didalam
mencapai tujuan hidupnya.
Orang Jawa
sendiri adalah seseorang yang berkelahiran di tanah Jawa atau keturunan orang
Jawa, namun tinggal diluar wilayah Jawa tetap dianggap orang Jawa. Asalkan,
orang tersebut memiliki kepribadian Jawa, yang senantiasa menerapkan bahasa,
budaya, dan filsafat Jawa. Namun, orang yang sekedar lahir dan bertempat
tinggal di wilayah Jawa, tetapi tidak berkepribadian Jawa, dianggap bukan orang
Jawa sesungguhnya.
Kepribadian orang
Jawa biasa dikenal kepribadian yang lebih mengutamakan Persoalan spiritual
ketimbang fisikal atau imaterial ketimbang material, maka filsafatnya pun
melekat dengan kepribadiannya. Ini wajar. Mengingat filsafat yang merupakan
pandangan hidup orang Jawa tersebut niscaya merefleksikan kepribadiannya.
Walaupun orang
Jawa memiliki filosofi tersendiri dalam hidupnya, namun mayoritas orang Jawa
saat ini menganut agama Islam. Ada juga beberapa orang Jawa yang memadukan
antara filosofi Jawa dengan ajaran agama Islam yang sebenarnya nya tidak jauh
berbeda. Filosofi Jawa dengan ajaran agama Islam hanya memiliki perbedaan kata
bahasa saja namun memiliki makna yang sama.
sedangkan Islam adalah ketundukan seorang hamba kepada wayu Ilahi yang diturunkan kepada para nabi dan rasul khususnya Muhamma SAW guna dijadikan pedoman hidup dan juga sebagai hukum/ kebahagiaan dunia dan akhirat. secara istilah juga, Islam adalah agama terakhir yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagagai Nabi dan utusan Allah (Rasulullah) terakhir untuk umat manusia, berlaku sepanjang zaman, bersumberkan Al-Quran dan As-sunnah serta Ijma' Ulama.
Berikut beberapa
filosofi hidup orang Jawa dengan ajaran agama Islam.
1. Alon-alon
Waton Kelakon
Perlahan tetapi
pasti atau tidak terbu-buru dalam bertindak. Mengingatkan orang agar selalu
waspada dalam melakukan tindakan agar tidak salah keputusan dan mampu
menghasilkan hasil yang terbaik. Begitu pun sabda kanjeng Nabi Muhammad SAW
yang berbunyi "sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang dicintai oleh
Allah dan Rasulnya, yaitu santun dan kehati-hatian" (HR. Tirmidzi).
2.aja gumunan,
aja getunan, aja kagetan, aja aleman.
Artinya kita
jangan mudah heran, mudah menyesal, mudah terkejut dan manja. Filosofi ini
mengajarkan kita untuk menjadi orang yang dapat menerima semua keadaan setelah
kita berusaha keras. Didalam Islam sikap seperti ini disebut sikap tawakal,
yang artinya berserah diri kepada Allah atas hasil yang diterima setelah orang
tersebut berusaha keras. Sebagaimana dalam surat As-syuara Allah SWT.
Memerintahkan hambanya untuk bertawakal, sedangkan arti tawakal itu sendiri
menurut bahasa 'menyerahkan'.
3. Sapa nandur,
bakalan ngunduh.
Siapa yang
menanam dia yang menuai, artinya sebuah karma kehidupan. Siapa yang berbuat
kebaikan maka akan menerima kebaikan, barang siapa pula berbuat keburukan maka
akan menerima keburukan. Seperti hal nya dalam firman Allah SWT didalam
Al-Qur'an surat Al Zalzalah ayat 7-8.
4. Nerima ing
panduan
Filosofi tersebut
memiliki arti menerima segala pemberian. Kita sebaiknya ikhlas menerima dan
mensyukuri apa yang menjadi milik kita tidak boleh ingin memiliki apa yang
menjadi hak orang lain.
"...
Janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian
kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain..." (QS AnNisaa:32)
5. Urip iku Urip
Hidup itu
menyala. Artinya dalam hidup ini kita harus memberi penerangan bagi orang yang
sedang berada dalam kegelapan dan senantiasa membantu orang lain pada saat
orang itu sedang dalam keadaan kesusahan. Hidup kita harus bermanfaat bagi
orang lain. Sama seperti sabda kanjeng Nabi
"... Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama
manusia..."(HR. Thabrani dalam Al-Ausath).
6. Aja kuminter
Mundakir keblinger, aja cidera Mundakir cilaka.
Dalam hidup ini
kita tidak boleh merasa paling pintar biar kita tidak mau salah arah dan jangan
suka mencurangi biar kita tidak mau celaka. Kita harus senantiasa bersikap
rendah hati kepada sesama. Saling bertukar pikiran, menghargai, menolong, dan
bekerjasama. Dalam hal sikap rendah hati ini telah ditekankan oleh kanjeng Nabi
SAW. "Dan Allah mewajibkan kepadaku
agar kalian saling merendahkan diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga
diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang
lain" (HR Muslim no. 2865).
7. Becik kethitik
ala ketara
Filosofi ini
artinya segala kebaikan akan terlihat dan segala keburukan akan terlihat. Semua
perbuatan yang dilakukan nantinya akan tampak, walaupun perbuatan buruk yang
disembunyikan nanti pada akhir nya akan terbongkar. Begitupun didalam ajaran
Islam "pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan
dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah
dikerjakannya..." (QS. Ali Imran: 30)
Filosofi-filosofi
diatas merupakan petuah dan ajaran dari leluhur Jawa dan Ajaran agama Islam.
Terdapat banyak kesamaan didalam filosofi Jawa dan ajaran Agama Islam. Dan
masih banyak lagi persamaan antara filosofi hidup orang Jawa dengan ajaran
agama Islam. Ada baiknya kita sebagai generasi muda memilih dan mengambil
pelajaran yang dapat kita petik dari makna kedua ajaran tersebut.
Adanya banyak
kesamaan antara filosofi hidup orang Jawa dengan ajaran agama Islam mungkin
salah faktor yang menyebabkan mayoritas orang Jawa menganut agama Islam.
sedikit mengutip perkataan seorang budayawan yaitu Emha Ainun Najib "Jawa sebetulnya sudah mukin, tetapi belum Islam".

Oleh : Silmi Alfaritsi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar