Senin, 29 Oktober 2018

Filosofi hidup orang Jawa dan ajaran agama Islam.

Assalamu'alaikum wr wb
Salam Santun Puji Rahayu

Gambar terkait
Filsafat dimaknai sebagai pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang, filsafat merupakan Pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal dan hukumnya. Filsafat dengan filosofi sebenarnya tidak ada perbedaan Antara kedua kata tersebut, hanya saja kata filsafat biasa digunakan dalam bahasa formal. Apabila di definisikan filosofi adalah kerangka berpikir kritis untuk mencari solusi atas segala permasalahan. Dengan demikian filosofi hidup orang Jawa dimaknai sebagai pandangan hidup yang menjadi pedoman didalam mencapai tujuan hidupnya.

Orang Jawa sendiri adalah seseorang yang berkelahiran di tanah Jawa atau keturunan orang Jawa, namun tinggal diluar wilayah Jawa tetap dianggap orang Jawa. Asalkan, orang tersebut memiliki kepribadian Jawa, yang senantiasa menerapkan bahasa, budaya, dan filsafat Jawa. Namun, orang yang sekedar lahir dan bertempat tinggal di wilayah Jawa, tetapi tidak berkepribadian Jawa, dianggap bukan orang Jawa sesungguhnya.

Kepribadian orang Jawa biasa dikenal kepribadian yang lebih mengutamakan Persoalan spiritual ketimbang fisikal atau imaterial ketimbang material, maka filsafatnya pun melekat dengan kepribadiannya. Ini wajar. Mengingat filsafat yang merupakan pandangan hidup orang Jawa tersebut niscaya merefleksikan kepribadiannya.

Walaupun orang Jawa memiliki filosofi tersendiri dalam hidupnya, namun mayoritas orang Jawa saat ini menganut agama Islam. Ada juga beberapa orang Jawa yang memadukan antara filosofi Jawa dengan ajaran agama Islam yang sebenarnya nya tidak jauh berbeda. Filosofi Jawa dengan ajaran agama Islam hanya memiliki perbedaan kata bahasa saja namun memiliki makna yang sama.

sedangkan Islam adalah ketundukan seorang hamba kepada wayu Ilahi yang diturunkan kepada para nabi dan rasul khususnya Muhamma SAW guna dijadikan pedoman hidup dan juga sebagai hukum/ kebahagiaan dunia dan akhirat. secara istilah juga, Islam adalah agama terakhir yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagagai Nabi dan utusan Allah (Rasulullah) terakhir untuk umat manusia, berlaku sepanjang zaman, bersumberkan Al-Quran dan As-sunnah serta Ijma' Ulama.

Berikut beberapa filosofi hidup orang Jawa dengan ajaran agama Islam.

1. Alon-alon Waton Kelakon
Perlahan tetapi pasti atau tidak terbu-buru dalam bertindak. Mengingatkan orang agar selalu waspada dalam melakukan tindakan agar tidak salah keputusan dan mampu menghasilkan hasil yang terbaik. Begitu pun sabda kanjeng Nabi Muhammad SAW yang berbunyi "sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang dicintai oleh Allah dan Rasulnya, yaitu santun dan kehati-hatian" (HR. Tirmidzi).

2.aja gumunan, aja getunan, aja kagetan, aja aleman.
Artinya kita jangan mudah heran, mudah menyesal, mudah terkejut dan manja. Filosofi ini mengajarkan kita untuk menjadi orang yang dapat menerima semua keadaan setelah kita berusaha keras. Didalam Islam sikap seperti ini disebut sikap tawakal, yang artinya berserah diri kepada Allah atas hasil yang diterima setelah orang tersebut berusaha keras. Sebagaimana dalam surat As-syuara Allah SWT. Memerintahkan hambanya untuk bertawakal, sedangkan arti tawakal itu sendiri menurut bahasa 'menyerahkan'.

3. Sapa nandur, bakalan ngunduh.
Siapa yang menanam dia yang menuai, artinya sebuah karma kehidupan. Siapa yang berbuat kebaikan maka akan menerima kebaikan, barang siapa pula berbuat keburukan maka akan menerima keburukan. Seperti hal nya dalam firman Allah SWT didalam Al-Qur'an surat Al Zalzalah ayat 7-8.

4. Nerima ing panduan
Filosofi tersebut memiliki arti menerima segala pemberian. Kita sebaiknya ikhlas menerima dan mensyukuri apa yang menjadi milik kita tidak boleh ingin memiliki apa yang menjadi hak orang lain.
"... Janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain..." (QS AnNisaa:32)

5. Urip iku Urip
Hidup itu menyala. Artinya dalam hidup ini kita harus memberi penerangan bagi orang yang sedang berada dalam kegelapan dan senantiasa membantu orang lain pada saat orang itu sedang dalam keadaan kesusahan. Hidup kita harus bermanfaat bagi orang lain. Sama seperti sabda kanjeng Nabi  "... Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia..."(HR. Thabrani dalam Al-Ausath).

6. Aja kuminter Mundakir keblinger, aja cidera Mundakir cilaka.
Dalam hidup ini kita tidak boleh merasa paling pintar biar kita tidak mau salah arah dan jangan suka mencurangi biar kita tidak mau celaka. Kita harus senantiasa bersikap rendah hati kepada sesama. Saling bertukar pikiran, menghargai, menolong, dan bekerjasama. Dalam hal sikap rendah hati ini telah ditekankan oleh kanjeng Nabi SAW.  "Dan Allah mewajibkan kepadaku agar kalian saling merendahkan diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain" (HR Muslim no. 2865).

7. Becik kethitik ala ketara
Filosofi ini artinya segala kebaikan akan terlihat dan segala keburukan akan terlihat. Semua perbuatan yang dilakukan nantinya akan tampak, walaupun perbuatan buruk yang disembunyikan nanti pada akhir nya akan terbongkar. Begitupun didalam ajaran Islam "pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya..." (QS. Ali Imran: 30)

Filosofi-filosofi diatas merupakan petuah dan ajaran dari leluhur Jawa dan Ajaran agama Islam. Terdapat banyak kesamaan didalam filosofi Jawa dan ajaran Agama Islam. Dan masih banyak lagi persamaan antara filosofi hidup orang Jawa dengan ajaran agama Islam. Ada baiknya kita sebagai generasi muda memilih dan mengambil pelajaran yang dapat kita petik dari makna kedua ajaran tersebut.


Adanya banyak kesamaan antara filosofi hidup orang Jawa dengan ajaran agama Islam mungkin salah faktor yang menyebabkan mayoritas orang Jawa menganut agama Islam.

sedikit mengutip perkataan seorang budayawan yaitu Emha Ainun Najib "Jawa sebetulnya sudah mukin, tetapi belum Islam".

Hasil gambar untuk filosofi jawa

Oleh : Silmi Alfaritsi

Rabu, 03 Oktober 2018

Kajian Ilmiah MAHYAH

sebagai bentuk pengabdian kepada Agama dalam menyebarkan Islam yang Rahmatan Lil'Alamin, Majelis Hikmah Alawiyah dan BEMP Ilmu Agama Islam menginisiai bentuk kegiatan Diskusi Ilmiah bersama Syaikh Sami bin Jamaal Al Kuhaali (Hadramaut), Dr Abdul Fadhil, Habib Alwi bin Abdullah Alaydrus dan Habib Alwi bin Ahmad bin Syihabuddin dengan mengundang dosen-dosen prodi Ilmu Agama Islam serta Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta. Namun sangat disayangkan nara sumber pertama Syaikh Sami bin Jamaal Al Kuhaali berhalangan hadir dikarenakan sakit.

Diskusi Ilmiah ini dilaksanakan Selasa, 2 Oktober 2018 mulai pukul 09.00-12.00 WIB di Gedung Ki Hajar Dewantara Lantai 9 Universitas Negeri Jakarta. kegiatan diawalai dengan sambutan sekaligus ucapan selamat datang dari Dr. Umasih, M.Hum selaku Wakil Dekan satu Fakultas Ilmu Sosial UNJ beliau menyambut baik kegiatan diskusi ilmiah ini karena akan dapat bermanfaat terutama sebagai wawasan bagi Mahasiswa UNJ.

Materi diskusi pertama disampaikan oleh Dr Abdul Fadhil beliau menyampaikan proses masuknya Islam ke Indonesia yaitu dengan jalan damai, hal ini dibuktikan oleh teori Gujarat bahwa para pedagang Gujarat datang membawa agama Islam, sebagaimana cara pedagang menjajakan barang nya pasti dengan ramah dan penuh senyum bukan dengan sikap jutek terlebih lagi dengan kekerasan. selain itu sistem penyampaian ajaran pada saat itu dengan proses akulturasi budaya. segala budaya yang baik dipertahankan dan senantiasa menerima budaya yang lebih baik.
kemudian dalam isiannya Habib Alwi bin Ahmad bin Syihabuddin menyampaikan bahwa setiap manusia dituntut oleh Allah Subhanahu Wata'ala untuk memiliki ilmu  kemudian ilmu harus diamalkan dan dikerjakan dengan ikhlas disertai rasa berhati-hati dalam kehidupan dunia yang melalaikan dan sikap menjauhi segala perkara yang Syubhat karena jika seseorang itu memiliki ilmu akan terjauh dari sikap perbuatan ekstrim sebab ia mengerti dan faham akan fungsi agamanya. menurutnya orang yang berilmu bukanlah orang yang pandai beretorika dalam berbicara atau pandai berdebat melainkan orang yang berilmu adalah orang yang takut kepada Allah swt.

selanjutnya, sesi ketiga Habib Alwi bin Abdullah Alaydrus dengan didahului ucapan terimakasih kepada Universitas Negeri Jakarta karena telah disediakan tempat unutk berdiskusi dengan mahasiswa, kemudia beliau mengutip perkataan nabi Muhammad saw bahwa diakhir zaman terdapat banyak sekali fitnah sehingga orang yang berada dalam kebenaran dijadikan bingung hendak kemana, namun obat dari segala fitnah itu adalah dengan sikap moderat. beliau juga mengatakan bahwa sikap moderat merupakan salah satu jalan yang harus ditempuh pada saat ini. selain itu masalah yang sampai saat ini terjadi pada kaum muslimin adalah tidap pernah membaca, karena dengan membaca kita akan mengetahui apa yang disampaikan Rasulullah sejak 14 abad lalu. Membaca dalam artian, memahami makna Al-Quran dan Hadits, memahami sejarah. dengan begitu kita akan menjadi manusia yang berilmu, beramal, ikhlas, khouf, dan wara'. jauhkan perselisihan terutama kepada sesama muslim kita harus bersikap bijaksana tidak mudah menyalahkan orang lain.